Thursday, February 26, 2015

Kisah Persahabatan Ika dan Intan-Prolog


Dirinya terpaku di depan sebuah foto berwarna pada sebuah album usang yang bercoverkan sesosok gadis Bali lengkap dengan busana dan payas ageng*. Di foto itu ada dua sosok gadis mungil sedang berjejer, yang satu tengah tersenyum lebar hingga semua gigi serinya kelihatan. Gadis itu duduk manis sambil menyelonjorkan kedua kakinya di lantai rumah, dia berambut panjang dengan poni sejajar, mengenakan kaos berwarna kuning kombinasi hijau, berkulit kuning langsat. Sedangkan gadis mungil yang satu lagi duduk di atas sebuah kursi kecil yang biasanya dipakai ibunya untuk mencuci baju, mengenakan baju dress panjang hingga selutut dengan kembang-kembang kecil berwarna pink yang baru saja dijahitkan oleh ibunya. Dia membawa seekor kucing induk berwarna hijau keabu-abuan, dimana kucing itu menggeleyot seakan minta diturunkan. Gadis mungil itu bermata sayu, berambut pendek di atas bahu, berkulit sawo matang, dan tidak tersenyum di depan kamera yang disorotkan oleh bapaknya. Kliik....

Foto itu seakan berbicara......kisah persahabatan antara dua gadis kecil yang berbeda agama. Namun akrab bagaikan saudara perempuan yang senantiasa tertawa renyah ketika sedang bermain di halaman sekolah. Dua-duanya adalah anak guru Sekolah Dasar Negeri 20 Pemecutan, yang beberapa tahun kemudian SD itu sudah tidak ada lagi karena melebur dengan SD di seberang. Keduanya tinggal dan dibesarkan selama bertahun-tahun di sebuah Mess atau rumah dinas yang diperuntukkan khusus untuk guru yang mengajar di sana. 

"Ka, ika...makan dulu nak. Nanti habis makan baru main lagi sama Intan", panggil Sang Ibu yang membawakan sebuah mangkuk kecil berisi makanan kesukaan gadis kecil itu. Tapi gadis itu masih cekakak cekikik bersama kawan kecilnya Intan sambil berlari-lari di halaman sekolah sesekali bermain-main di kolam depan Kelas IV yang teduh. "Iya bu............". Gadis itu menghampiri ibunya yang masih tetap langsing walaupun sudah beranak satu. Suapan pertama, kemudian pergi lagi mencari sohibnya Intan. 

***
Namanya Ika, dia sangat akrab dipanggil dengan sebutan itu apalagi ditambah arti Ika menurut pemahamannya dulu berarti satu. Ya, dia anak pertama dan belum memiliki adik. Sekarang umurnya masih 5 tahun, dan sudah bersekolah TK B di Taman Kanak-Kanak Lestari. Kala itu gigi depannya ompong hanya ada dua 'caling'* yang menghiasi senyumnya. Dialah si gadis bermata sayu, dan berkulit sawo matang di foto itu. Sebagai anak pertama, Ika memiliki watak keras kepala, egois, dan selalu berambisi ini itu, kemauannya keras, tekadnya membara, tapi sayangnya dia penakut dan cengeng. Ika adalah anak dari seorang guru agama yang mengajar di SD itu...Guru Agama Islam. Di tengah mayoritas penduduk yang beragama Hindu. Yups betul...Ika tinggal di Pulau Dewata Bali yang kata orang adalah surga dunia dengan pemandangan dan kebudayaan yang tetap ajeg* dan dipuja-puja para turis asing. 



Ika memiliki watak hampir 95 persen mirip sama bapaknya. Begitu juga karakternya dengan wajah bulat, bentuk kepala besar di atas, kulit agak hitam sawo matang, mata yang sayu, senyum semua persis seperti bapaknya. Hanya saja hidungnya lumayan agak mancung, rambutnya lurus, bibir yang tipis, perawakan yang kurus, mungkin itu saja yang mirip sama ibunya. Namun, rahangnya mewarisi neneknya yang geraham bawahnya lebih maju dibandingkan geraham atas alias camet.

Ibunya adalah perempuan yang sangat sabar. Tidak pernah mengeluh atas apapun yang menimpa dirinya dan berbagai kesulitan ekonomi dihadapannya. Sewaktu muda dia adalah perempuan yang cantik, dengan garis keturunan Jawa tulen, Banyuwangi-Jawa Timur. Kulitnya putih langsat, rambut aslinya lurus tetapi sering menyesuaikan dengan mode zaman dulu yang keriting agak kribo seperti artis-artis zaman Roma Irama, maupun Dono, Kasino, Indro. Mungkin itu juga salah satu alasan mengapa bapaknya menyukai ibu, terlebih lagi ibu bukanlah orang yang neko-neko, dia tidak pernah membantah ucapan sang suami.


Sedangkan bapaknya adalah laki-laki yang tidak pernah menyerah dan selalu bertanggung jawab. Memiliki garis keturunan Bugis-Melayu yang menetap lama dan bercicit-cicit di Pulau Dewata. Kampungnya ada di sebelah barat pulau Bali. Bahasa kesehariannya adalah bahasa melayu seperti Upin dan Ipin. Desa Pengambengan, desa penghasil ikan terbesar di pulau Bali. Disana terdapat banyak pabrik pengalengan ikan sardin yang dipasarkan di dalam maupun luar negeri. Namun, sang Bapak memilih untuk berhijrah menjadi seorang guru di ibukota Bali, yaitu Denpasar. Selain sebagai seorang guru, bapaknya juga menjalani berbagai macam bisnis sampingan. Tahun 1990-an bapaknya menjalani bisnis sampingan sebagai tukang pembuat miniatur perahu yang merupakan pesanan beberapa turis asing.


Walaupun Ika tinggal dan dilahirkan di pulau Dewata itu, namun tidak akan kalian temui nama Bali membubuhi nama lengkapnya. Sebagai seorang muslim, kalian juga tidak akan menemukan nama muslim menghiasinya. Namanya unik, tidak banyak yang memiliki nama itu. Namanya pun mirip nama artis cilik yang lagi naik daun di masanya dan sering mengisi acara Tralala, Trilili. Tapi dia tidak mempersoalkannya karena dia menganggap namanya adalah Ika yang berarti satu. Dia pun belum menanyakan kepada orang tuanya apa sebenarnya arti nama lengkapnya tersebut....


Sebagai seorang anak tunggal sebelum kelahiran adik-adiknya, terkadang Ika merasa kesepian. Seringkali dia bertanya kepada ibunya "Kapan ikanya punya adik bu?". Ibunya hanya menjawab "Iya nanti...memangnya ikanya sudah siap punya adik?". Dia pun mengangguk-angguk serius. Sejurus itu dia langsung mengingat kejadian saat dia pulang kampung ke Pengambengan ada seorang nenek tua yang berkunjung ke rumah neneknya dan mengatakan "Ilangin dulu caling-nya baru je punya adik..."

Mengingat kejadian itu Ika bertanya pada ibunya "Apa betul karena caling ini ikanya belum punya adik bu?". Ibunya pun tertawa terkekeh-kekeh "Itu cuma takhayul, Ka". Gadis kecil itu pun terdiam sambil mengernyitkan kening, dalam hati dia masih memikirkan kejadian itu dan belum mengerti apa arti kata takhayul.

***


Intan adalah sohibnya si Ika. Teman sepermainan sejak kecil hingga SMP. Intan anak seorang guru juga di SD itu. Ibunya adalah seorang guru kelas V, dan ayahnya adalah pegawai hotel. Mereka tinggal di sebuah mess juga. Intan beragama Hindu, agama mayoritas di tempat tinggalnya. Intan memiliki watak yang selalu ceria, walaupun agak manja dan agak sedikit cengeng. Umur Intan hanya beda beberapa bulan dari Ika. Intan pun memiliki nama Bali di depan namanya. Hanya saja nama itu untuk anak kedua, Made. Dia sering bercerita kalau dia itu sempat memiliki kakak laki-laki, namun sudah tiada. Intan sudah memiliki seorang adik laki-laki yang terpaut hanya 2 tahun dari dirinya. Ika terkadang merasa iri padanya yang sudah memiliki adik duluan. Tapi Intan tetaplah Intan, dia adalah temanku yang selalu bisa menghiburku di saat senang maupun sedih. Kesendirianku tak berarti tanpanya. Kami tidak pernah kehabisan akal untuk bermain dan membuat permainan-permainan baru yang menyenangkan dan tidak membosankan. Masa kecilku aku habiskan bersamanya, walau kami berbeda agama....


***


"Iiiikaaaaaaaaaaaaaaa.........................................." (dengan nada yang khas). Ada yang berteriak memanggilnya di luar rumah. "Iyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, bentar..............................". Rupanya si Intan sudah menunggunya di luar untuk bermain. "Eh intan, main yuk??" Kata Ika. "Ayuuukk, Intan sudah bawa boneka-bonekaan nih". "Iya yuk kita main boneka-bonekaan, aku juga sudah punya barbie loo. Ibuku yang beliin harganya 1500,-". "Boneka pinguinmu mana Ka?" Tanya Intan. " Ada kok, tapi aku pengen main barbie, hehe". "Oke kita main barbie yuk...."sahut Intan.


Mereka pun bermain barbie.....


Ika memang tidak mudah mendapatkan boneka Barbie yang dia inginkan. Saat dia diajak ibunya ke sebuah pasar di Monang-Maning, dia senantiasa merengek minta dibelikan barbie yang saat itu harganya Rp1500,-. Ibunya hanya bisa menenangkan dan berjanji akan membelikannya besok jika ke pasar lagi. Harga segitu memang tidak terlalu mahal, tetapi tetap saja ibunya harus menabung supaya bisa membelikan anak gadisnya itu boneka Barbie kesukaannya. Mungkin setelah sebulan dari peristiwa itu, ibunya akhirnya dapat merealisasikan impian anaknya.



By: Monica O.



Artikel Terkait

0 komentar:

Post a Comment

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Pengunjung Blog

Labels

A EKMET (1) A MACRO (1) A MATEK (1) A MENULIS (1) A MICRO (1) ENGLISH (13) ISLAMI (9) KISAH (24) KUE (2) KULINER (3) LEARNING (23) Menjahit (6) MONICLENS (8) MY CREATION (12) MY LOVELY FAMILY (17) NGAJI (1) NOSTALGIA (14) PUISI (7) RESENSI FILM (6) STORY (38) TAJWID (1) TESTIMONI (2) TIPS dan TRICK (16) TRAVELLING (40) TSAQOFAH (1) Umar (9)

Alih Bahasa

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Monica Oktavina. Powered by Blogger.

Blog Archive

Flag Counter

Flag Counter

About Blogger

Hello guys, I am a mother of two kids, hopefully this blog useful for you, do not forget to follow this blog to get more information ^_^ (Instagram: moniceoktavina12. Youtube: Monica Oktavina) Contact Us: moniceoktavina@gmail.com

PRIVACY POLICY

Copyright © Monice and Family | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com