Read More

Slide 2 Pulo Cinta

Wisata Pulo Cinta Boalemo
Read More

Slide 3 Pulo Cinta

Wisata Pulo Cinta Boalemo
Read More

Slide 4 Pulo Cinta

Wisata Pulo Cinta Boalemo
Read More

Slide 5 Pulo Cinta

Wisata Pulo Cinta Boalemo
Read More

Slide 6 Pulo Cinta

Wisata Pulo Cinta Boalemo

Sunday, April 09, 2023

Cara Menggunakan Aplikasi Mendeley untuk Sitasi dan Daftar Pustaka

Bismillah..

Buat temen-temen yang lagi nyusun skripsi dan tesis, saya mau sharing terkait aplikasi mendeley yang mungkin sebagian orang agak kesulitan menggunakan aplikasi ini. Saya juga baru tahu dari teman saya kalo mendeley itu ga cuma 1 aplikasi aja, tapi ada beberapa aplikasi yang harus diinstall juga di laptop. Ga asal masukin sitasi dari publikasi di jurnal terus tahu2 muncul di word gitu ya guys... Jujurly, karena awalnya saya ga ngerti saya manual aja masukin ke tugas-tugas. Terus pas mau bikin tesis, saya baru ngeh cara manual itu sangat ga efektif banget.. 

Jadi, ada 4 aplikasi mendeley yang harus kalian install di laptop:

1. Aplikasi mendeley reference manager. Kalian bisa download disini:

https://www.mendeley.com/reference-management/reference-manager/

Nah, setelah itu kalian sign up dan sign in menggunakan email dari universitas kalian masing-masing ya..nanti tampilannya akan kayak gini:


2. Di bagian tools, itu kalian harus install Mendeley Web Importer 


3. Yang ketiga, kalian juga install Mendeley Cite for Microsoft Word

4. Nah, yang terakhir kalian harus install Mendeley for Desktop ya..


Setelah kalian install empat Mendeley tadi, kalian bisa cari-cari artikel buat dimasukkan ke mendeley reference manager, misalnya dari elsavier, add to Mendeley


Kalian juga bisa buat collection di mendeley reference manager sesuai kebutuhan kalian..


5. Kemudian, kalian masuk ke word. Jika tampilan word kalian sudah kayak gini, selamat anda sudah bisa menggunakan mendeley buat DAFTAR PUSTAKA..



Kalian harus insert citation (untuk sitasi) dulu ya guys, baru insert bibliography buat daftar pustakanya..yeayyy selamat mencobaa..


Read More

Wednesday, February 22, 2023

Gagal masuk Sekolah Alam reguler

Dalam hidup kita akan selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Ketika mimpi kita dengan probabilitas lebih besar ke satu pilihan dan ternyata gagal karena faktor X, untuk menumbuhkan semangat ke pilihan yang lain akan membutuhkan effort yang jauh lebih besar dari sebelumnya..

Beberapa waktu lalu saya sangat berkeinginan untuk menyekolahkan anak saya di sekolah alam yang dekat dengan kontrakan. Ya pilihan mengontrak memang kala itu salah satunya karena keinginan tersebut. Uang SPP yang dipatok 1jt/bulan untuk reguler membuat saya bertekad anak saya masuk reguler. Terapi selama 3,5 tahun dan kemampuan membaca yg sudah bertahap bisa walaupun masih terbata-bata membuat saya pede anak saya bisa. Tetapi, sekolah tersebut memiliki SOP yaitu tes kemampuan akademis dan IQ sebelum masuk sekolah. Sehingga orang tua tidak bisa memilih secara langsung anak masuk reguler atau Special needs (berkebutuhan khusus). Fyi sekolah alam adalah sekolah inklusi di mana anak berkebutuhan khusus (SN) spp nya jauh lebih besar yaitu 3-4jt per bulan.

Berdasarkan penjelasan dari gurunya, kuota SN tahun ini sudah penuh di sekolah tersebut. Yaitu hanya 1, dibatasi 1 anak per kelas. Penjelasan tersebut membuat saya semakin yakin kalau anak saya bisa masuk yang reguler. Kami pun menjalani serangkaian tes tersebut yang harganya lumayan juga yaitu 750rb hanya untuk tes. Hasil tesnya diberikan oleh dokter Sp.A (K) di sebuah klinik. Tetapi Allah berkehendak lain, ternyata hasil tes anak saya tergolong kategori anak berkebutuhan khusus. Dengan tingkat konsentrasi yang rendah, kemampuan bicara yang kurang dan IQ yang rendah. 

Dokter bertanya anak ini diagnosanya apa, sudah berapa lama anak anda terapi, terapi di mana, dan lainnya. Saya pun menjawab sesuai dengan keadaan anak saya. Yang saya agak heran, saya belum pernah memberikan suatu statement kepada pengajarnya bahwa anak saya adalah anak special. Tetapi dokter tersebut sudah langsung bisa mengetahuinya tanpa saya sebutkan di awal. Kemudian dokter berkata kalau anak saya ga bisa masuk reguler karena perlu pendampingan khusus. Saya pun mulai berargumen dari kuota SN yang kata pengajarnya sudah full dan juga perkembangan anak saya yang sudah lumayan banyak. Tetapi dokter tetap tidak bisa dan menggelengkan kepalanya. Dokter memberikan alternatif anak saya sekolah di SD biasa dengan tetap terapi.

Akhirnya kami keluar dari ruangan itu dengan harapan yang sudah pupus. Mimpi saya supaya anak saya mendapatkan pendidikan yang terbaik seakan musnah. Saya harus menerima kenyataan bahwa anak saya memang berbeda. Saya tahu anak saya ga akan mungkin mengejar di bidang akademis seperti anak-anak lainnya. Maka dari itu saya sangat bersemangat di sekolah alam yang notabene memberikan fasilitas lain seperti soft skill bercocok tanam, berjualan, dsb. Tetapi saya harus menerima kenyataan bahwa apa yang saya anggap baik belum tentu terbaik buat anak saya, dan tidak ada yang bisa dilakukan setelah ikhtiar selain tawakkal dan berserah diri kepada Allah..

Sekarang saya harus move on dan mulai mencari alternatif sekolah lain. Walaupun tidak sesemangat pertama, tapi anak saya juga harus tetap bersekolah. Semoga Allah memberikan petunjuk sekolah yag terbaik, aamiin..


Read More

Sunday, January 01, 2023

Flashback 2022 (Kuliah di UI), Welcome 2023

        Alhamdulillah tahun 2022 adalah tahun kedua di mana saya menjadi mamasiswa semester 2 dan 3 di UI. Yupz mamasiswa, mahasiswa sekaligus seorang mama bagi kedua anak saya yang masih usia toodler (balita) dan satu lagi menginjak usia 6 tahun. Walaupun mengalami up and down dalam menjalani kedua peran tersebut, tetapi terus terang saya bahagia sekali karena bisa menjalani keduanya tanpa harus banyak keluar rumah. Semester 2 masih saya jalani secara online (maasyaa Allah seneng banget), walaupun jadwal kuliah lumayan padat dan banyak tugas tetapi saya cukup mendengarkannya lewat zoom. Ujian pun masih dilaksanakan secara online, kecuali ujian makro ekonomi yang diwajibkan ke kampus. Sebenarnya sudah hampir 1,5 tahun saya tidak lagi mempekerjakan ART (asisten RT) dalam mengurus rumah dan anak-anak. Banyak pertimbangan sehingga akhirnya saya memutuskan untuk tidak memiliki pembantu karena saya ingin anak-anak lebih mandiri dan tidak manja, juga saya yang bisa mengatur rumah sebaik mungkin dibandingkan saat bekerja. Konsekuensinya ya hampir semua kerjaan rumah saya yang handle, kecuali cuci dan jemur baju dikerjakan sama suami sebelum berangkat ke kantor.

        Akan tetapi, tentunya dengan tidak memiliki ART saya harus mencari jalan bagaimana supaya anak-anak saya ada yang menjaga khususnya ketika saya sedang kuliah strict (kalau dosen harus oncam) dan juga ketika saya ujian. Saya mencari daycare terdekat dari kontrakan (oh iya di tahun 2022 saya juga sudah mulai ngontrak, sebelumnya tinggal di rumah mertua). Alhamdulillah, ketemu dengan sebuah sekolah yang ada daycarenya. Awalnya saya merasa agak ragu memasukkan anak-anak disitu, karena tempatnya tidak sebesar daycare lain. Namun, saya memantapkan hati karena biaya yang dikeluarkan lebih murah apalagi harus dikali dua. Di sana juga anak-anak bisa dititipkan tidak full day (half day), dan di waktu-waktu tertentu saja bisa full day dengan biaya tambahan. Alhamdulillahnya lagi, di sekolah itu juga menyediakan jasa antar jemput anak yang sangat memudahkan saya yang belum memiliki motor dan jika ada kuliah pagi sesi 1. Alhamdulillah semester 2 berjalan dengan lancar, walaupun nilai IPK saya agak turun karena saya mengambil 3 SKS tambahan dan lumayan agak keteteran. Pertimbangan saya mengambil 3 SKS tambahan (total 16 SKS) adalah saya bisa kuliah di semester selanjutnya dengan lebih sedikit mata kuliah (mencegah jika semester 3 harus offline). Beratnya kuliah di semester 2 sangat terbantu dengan teman-teman seangkatan saya yang memberikan rekaman video saat zoom (sehingga bisa saya ulang kembali) dan juga latihan-latihan soal dari asisten dosen.

        Akhir semester 2 midterm, saya libur sekitar 3 bulan. Seneng banget, jadi kerjaan saya cuma ngurusin anak-anak. Saya juga liburan ke Bali, ke rumah orang tua saya dan di sana sekitar 1 bulanan. Kami ke sana dengan menggunakan bus darat karena Ahmad masih belum vaksin covid jadi ga bisa naik pesawat. Ada beberapa kejadian di bus yang lumayan menegangkan, jadi bus kami sempat mogok di jawa timur karena bus mengeluarkan asap di dalam. Kejadian itu berlangsung lumayan lama, dan bus tidak bisa berjalan normal (sangat lambat) supaya mencegah asap keluar lagi. Sesampainya di Surabaya, bus baru bisa dibenerin walaupun terus terang saya agak trauma sama bau asap di dalam bus.  Saat menyebrang Gilimanuk, itu bertepatan dengan kondisi di mana semua planet sejajar yang katanya bisa menyebabkan air laut pasang di jam 00.00. Alhamdulillahnya, adik dan ibu saya menjemput di Gilimanuk sehingga kami bisa keluar dari screaming bus itu. 

        Liburan sebulan di Bali benar-benar puas banget, karena dekat sama orang tua dan adik. Kerjanya cuma makan, tidur, jalan-jalan dan ngempu anak-anak. Lebaran Idul Adha juga kami bisa sholat Ied di Bali, dan anak-anak senang sekali. Kami juga pergi ke rumah datuk dan saudara-saudara di Bali. Setelah itu, suami menjemput untuk pulang ke Bekasi. Liburan usai, saya harus melanjutkan semester 3. Semester ini hanya 5 SKS, dua mata kuliah saja karena saya sudah mengambil 1 mata kuliah tambahan di semester sebelumnya. Seperti dugaan saya sebelumnya, perkuliahan di semester 3 dilaksanakan secara offline. Jadinya, beberapa kali saya harus ke kampus untuk kuliah. Akan tetapi, saya memilih untuk tidak ngekos karena saya rasa masih bisa commuter Bekasi-Depok. Alhamdulillahnya hanya 60% pertemuan saja yang offline, selebihnya masih bisa online dengan zoom (ke kampus hanya seminggu sekali atau kadang 2 minggu sekali). Pergi ke kampus dengan jarak lebih dari 60 km membuat saya harus memprediksi keberangkatan saya walaupun beberapa kali saya sering telat akibat terlambat dapat kereta ataupun keretanya yang berangkatnya telat. 

        Kalau ada jadwal kuliah atau ujian offline, saya harus berangkat dari Bekasi 2,5 jam sebelumnya. Yang membuat saya kurang bisa memprediksi waktu dengan tepat sebenarnya mempersiapkan anak-anak untuk berangkat ke sekolah dan daycarenya. Itu bener-bener perjuangan banget sih. Mempersiapkan dari mulai bangunnya yang agak susah, mandinya dan memastikan mereka cukup sarapan. Setelah itu saya ke kampus dengan menggunakan gojek ke stasiun dan naik KRL menuju stasiun UI (kereta tujuan Bogor peron 12-13 kalo berangkat dan peron 8 tujuan Bekasi/Cikarang kalo balik ke Bekasi). Pernah telat banget pas sesi 1 (suami berangkat duluan ke kantor), karena saya pakai gocar dan estimasi pasti sampai 1 jam ga tahunya macet di tol panjang dan lama banget, baru sampai di kampus jam 9.15 padahal ngampus mulai jam setengah 9. Untungnya dosennya agak telat, tetapi tetap saja saya lebih telat dari dosennya (hikz). Kuliah sesi 1 saya akui memang paling berat karena ga bisa diprediksi di jalanan apa yang terjadi. Akhirnya di pertemuan selanjutnya, saya memutuskan untuk ikut suami dan minta tolong diantarkan ke stasiun. Tapi..tetap terlambat karena kali ini keretanya yang ga berangkat-berangkat lebih dari 40 menit. Yowislah akhirnya telat...serius malu sih karena sering telat, tapi ya resiko saya karena memilih untuk commuter. 


        Jujurly, selama kuliah karena keseringan online, jadi saya kurang terlalu dekat dalam bergaul (dan memang saya agak introvert). Tapi ada satu orang temen deket saya, dan uda kayak mates gitu. Alhamdulillah banget selama kuliah saya jadi semangat apalagi kalau ada materi yg saya kesulitan mencerna, kami berdiskusi. Ya mungkin Allah memberikan pertolongan selama kuliah lewat dia, apalah daya saya cuma emak-emak anak dua yang mengalami capability deprivation karena usia. Banyak tugas yang saya sering nanya ke dia gimana maksudnya termasuk di saat memilih dosbing yang bener-bener galau banget. Walaupun pilihan dosbing kami berbeda, tapi tetap kami masih sering berdiskusi. Mudah-mudahan pilihan saya tepat, walaupun agak deg-degan juga karena deadline tesis dan publikasi otomatis semakin dekat...

        Hari ini 1 Januari 2023, di tahun ini saya awali dengan berdoa mudah-mudahan lebih baik dari tahun sebelumnya. Mudah-mudahan dilancarkan seminar, sidang tesis dan accept publikasi sehingga saya bisa lulus dan wisuda tepat waktu (Juli-Agustus 2023). Jika sudah lulus nanti, artinya saya harus melanjutkan perjuangan saya bekerja di instansi yang telah memberikan saya beasiswa kuliah. Semoga urusan-urusan kami dimudahkan, kami semua diberikan kesehatan, keselamatan terutama anak-anak mendapatkan sekolah dan pendidikan terbaik. Semoga orang tua saya juga senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan. Aamiin Ya Robbal'alamiin....

Read More

Sunday, February 13, 2022

Mahalnya Harga sebuah Rumah Impian (Cash or KPR)

Bismillah..

Keinginan untuk memiliki sebuah rumah idaman adalah impian setiap orang. Tapi saat ini harga rumah sangat mahal. Bayangkan saja rumah tipe 36/70 di Kota Bekasi harganya sudah mencapai 500 juta!. Harga itu tentunya sangat mahal bagi seorang pegawai. Kenapa pegawai, ya karena gaji pegawai kiranya hanya sedikit di atas UMR. Hal tersebut membuat kemungkinan untuk dapat membeli rumah secara cash peluangnya semakin sedikit. Belum lagi kebutuhan yang selalu datang membuat kesempatan untuk menabung semakin tidak memungkinkan. Kenaikan harga properti dari tahun ke tahun digadang-gadang karena faktor inflasi, ketersediaan tanah, dan kenaikan harga bahan baku konstruksi. Mungkin memang ada benarnya, tapi menurut saya faktor penting kenaikan harga properti adalah KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Mengapa? karena KPR inilah orang akan menjual rumah dengan tidak ingin merugi. Contohnya, harga rumah awal adalah 100 juta, kemudian KPR selama 10 tahun dengan cicilan 1,5 juta per bulan. Coba kita hitung, 1,5 juta x 12 x10 = 180 juta. Maka kemungkinan orang tersebut akan menjual rumahnya seharga 200 juta (minimal). Dalam 10 tahun harga rumah sudah tidak ada lagi yang 100 juta, mungkin sekitar 250 juta-350 juta begitupula dengan harga rumah baru. Sistem KPR berlanjut lagi, misal dengan cicilan 4 juta x12x10 = 480 juta, ketika orang tersebut sudah lunas KPR maka akan menjual rumahnya seharga minimal 500 juta, demikian seterusnya. Bukan tidak mungkin jika 10 tahun ke depan harga rumah 36/70 sebesar 1 milyar!! Yah, mungkin jika tidak ada sistem KPR dan orang-orang masih menggunakan sistem cash mungkin masih ada rumah seharga 150 juta.

Tidak perlu jauh-jauh memikirkan 10 tahun ke depan, harga rumah yang sesuai impian kita saat ini sudah dibandrol seharga 2-3 Milyar di kawasan perumahan elite (biasanya yang ada garden-gardennya). Perumahan dengan lingkungan yang asri, tidak sempit dan juga penjagaan yang ketat menjadi impian bagi banyak orang namun dengan budget yang constrain. Ketersediaan tanah memang semakin lama semakin sedikit, dengan jumlah penduduk yang terus bertambah. Hal ini merupakan problematika, terutama generasi muda yang mungkin ke depannya hanya mampu menyewa atau mengontrak dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan membeli sebuah rumah. Solusi yang ditawarkan pemerintah salah satunya adalah perumahan subsidi, tetapi tidak semua rumah subsidi dapat dibeli secara cash karena keuntungan yang lebih banyak jika dibeli secara kredit. 

Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut, mungkin ke depannya tidak semua orang bisa memiliki rumah impiannya. Hanya orang-orang yang notabene wiraswasta atau pengusaha berpenghasilan tinggi yang mungkin bisa memiliki rumah. Atau jika suatu saat terjadi deflasi atau minimal inflasi perumahan 0,..% mungkin masih ada peluang untuk memiliki rumah milik sendiri. Menabung sedari dini untuk bisa membeli rumah adalah langkah yang sangat baik untuk bisa mewujudkan impian itu. Ataukah tergiur dengan iming-iming developer/manajemen properti yang menggunakan motto "jika tidak KPR sekarang tahun depan harga rumah naik dan yang ada saat ini bisa diambil orang". So, what's your choice Cash or KPR?

Read More

Saturday, February 05, 2022

Selamat jalan Nenek..

Bismillah..

Rasanya ingin sekali pulang kampung, melihat senyum terakhir nenek tapi ga bisa..

"Bile kau nak pulang?" (Kapan kamu pulang?) Adalah kata-kata yang sering sekali aku dengar dari nenek ketika aku masih sekolah di MAN negara karena dulu sy juga tinggal di asrama. Sambil membuat sirih pinang dan menguleknya pada sebuah batu. Yah nenek memang sangat suka memakan sirih pinang. Nenekku sangat mirip dengan opa yang ada di upin dan ipin. Sedikit2 dia tertawa kecil dan selalu teringat tentang bapak di denpasar..Terkadang aku suka sekali tidur di tempat tidurnya dan menunggu nenek selesai sholat. Aku masih teringat ketika sakit, nenek memijitku dan memberikanku obat. Kenangan bersama nenek selama bersekolah di MAN tidak akan pernah aku lupakan..Dan waktu cepat sekali berlalu..

Jumat, 4 Februari kemarin nenek saya telah berpulang ke Rahmatullah. Kabar nenek meninggal pertama kali sy tahu dari adik saya yang pertama. Hanya saja kabar tersebut masih belum saya dapat dari bibi saya di kampung. Selepas maghrib, saya mengantar anak saya pergi ke dokter untuk berobat karena kakinya yang masih sakit. Sudah 7 hari anak saya belum bisa berjalan kembali karena kakinya sulit digerakkan. 

Sepulang dari dokter, saya mendengar kabar meninggalnya nenek saya dari bibi melalui whatsapp. "Neneknya sudah meninggal  sudah tidak ada umur..". Ya Allah rasanya sedih sekali mendengarnya..

Saya ga bisa berbuat apa-apa hanya mendoakan dari jauh, dan membacakan surat Yasin melalui video call. Ingin rasanya segera flight terus melihat wajah terakhir nenek..tapi ga bisa.  Hanya melalui video call saya dapat melihat wajah terakhir nenek..

Semoga nenek husnul khotimah, diterima amal ibadahnya, diampuni dosa-dosanta, dilapangkan kuburnya dan diberikan tempat kembali di surga Nya..aamiin Ya Robbal'alamiin..

Read More

Wednesday, February 02, 2022

Sprain di Kaki si Gadis Kecil

Bismillah,

Baru saja sembuh dari penyakit flu seminggu yang lalu, kemudian si gadis kecil kakinya keseleo..sebagai seorang ibu ga bisa diungkapin pake kata2 rasanya..ya pastinya sedih..Kejadiannya sebenernya ga terlalu mengkhawatirkan sebab si gadis kecil keseleo dari kasur yang hanya setinggi ga sampe 30cm. Tapi kejadian itu ternyata membuatnya sulit untuk berjalan sudah 3 hari. Gadis kecil yang biasanya suka berlari kesana kemari dengan kaki mungilnya sekarang masih berbaring di tempat tidur menunggu kakinya pulih kembali. 

Hari pertama keseleo, dia jalan sambil menjinjit. Seperti ada yang dirasakan pada kakinya. Tetapi dia terus bermain bersama kakanya di depan rumah. Selang beberapa saat kakinya kembali sakit, kemudian setelah magrib kami mengajaknya ke tukang urut. Si gadis kecil sudah merasa baikan dengan kakinya tetapi dia terus berjalan, dan berlari saat makan malam. Keesokan harinya, dia menangis kencang karena kakinya sakit sehingga membuatnya ga bisa berjalan. Ibu mana yang tega melihat anak yg sehari2 nya lincah saat ini hanya berbaring di tempat tidur. Air matanya tak terasa mengalir sembari terus menemani anaknya di tempat tidur. Yah, anaknya ga pengen ibunya jauh darinya...Sang ibu sangat khawatir akan kondisi anaknya itu. Tetapi terus ada harapan bahwa sakit kaki yang diderita anaknya akan pulih kembali..

Di hari kedua kaki si gadis kecil masih sangat sulit digerakkan, bahkan untuk berpindah dari sisi ke sisi. Ibu melihat kondisi kaki anaknya, keseleo bukan di bagian pergelangan kaki tetapi di bagian lutut yang semakin membengkak. Ibu hanya terdiam melihatnya, sambil berusaha untuk mengompres tetapi anak tersebut menangis tanda tidak mau. Dengan tertatih, walaupun anak itu hanya berdiam, sang ibu menyuapinya 3x sehari walaupun makannya hanya sedikit. Ketika hampir malam, si ibu mencoba supaya kaki anak kecil itu bergerak. Perlahan gadis itu mencobanya dan berhasil walaupun hanya 5cm menuju telapak tangan ibunya..Harapan akan kesembuhan kaki anaknya semakin besar..

Di hari ketiga, si gadis kecil sudah mulai bisa duduk, dan kakinya sedikit demi sedikit sudah bisa digerakkan. Walaupun masih sangat terbatas, karena dengkulnya masih bengkak. Melihat kondisi anaknya semakin membaik sang ibu sangat senang. Tetapi ketika BAK gadis kecil masih harus digendong. Dan tentunya dengan menangis dan menjerit. Gadis kecil itu juga sudah bisa duduk dengan sendirinya. Tetapi, saat mau tidur, kakinya malah menekuk dan sulit untuk digerakkan..

Hal ini terus berlangsung sampai hari ketujuh, lutut gadis kecil itu semakin membengkak, namun kenapa ada matanya?? seperti bisul..akhirnya sang ibu membawanya ke dokter. Saat mengantarkan anaknya ke dokter, dia mendapatkan berita duka bahwa neneknya meninggal dunia. Alangkah sedihnya perasaannya saat itu. Dia ingin cepat ke rumah dan membacakan Yasin dan mendoakan kepergian neneknya yang nun jauh disana..

Dokter memberikan resep sepertinya antibiotik dan obat nyeri karena diagnosis dokter lutut gadis kecil itu infeksi, dengan telaten dia memberikan obat itu ke gadis kecilnya, malamnya diapun masih begadang dengan raungan gadis kecil yang mengeluh kesakitan. Keesokan harinya, dia mendapati mata bisul di lutut anaknya keluar, dan selang beberapa jam kemudian nanah dan darah keluar dari lututnya. Nanah itu sangat banyak, sampai-sampai tisu yang telah digunakan habis dan penuh sekantong keresek. Dengan telaten, dia mengusap nanah-nanah itu sampai tidak keluar lagi, sambil memberikan obat pada jamnya. Alhamdulillah kaki gadis kecil itu berangsung membaik, serta bengkaknya sudah mulai mengempis dan kakinya sudah bisa diluruskan..Sang ibu tersenyum gembira, dia berharap kaki gadis kecil itu hanya bengkak karena bisul bukan karena yang lain.

Keesokan harinya anak itu diajarkan berjalan, namun dia masih takut sehingga dia masih menggunakan 1 kaki. Tetapi ibunya meyakinkan anak itu bahwa "kamu pasti bisa, ayo pegang mama".... Tak lama gadis itu mulai menapakkan kedua kakinya ke lantai sambil ditatih oleh ibunya. Tak lama gadis itu mulai bisa berjalan, dan ia bahkan lupa pernah satu minggu hanya tiduran saja..

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah..terima kasih Ya Allah, Engkau telah memberikan kesehatan dan kesembuhan pada gadis kecilku..

Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Pengunjung Blog

Labels

A EKMET (1) A MACRO (1) A MATEK (1) A MENULIS (1) A MICRO (1) ENGLISH (13) ISLAMI (9) KISAH (24) KUE (2) KULINER (3) LEARNING (23) MONICLENS (8) MY CREATION (12) MY LOVELY FAMILY (17) Menjahit (6) NGAJI (1) NOSTALGIA (14) PUISI (7) RESENSI FILM (6) STORY (39) TAJWID (1) TESTIMONI (2) TIPS dan TRICK (16) TRAVELLING (40) TSAQOFAH (1) Umar (17)

Alih Bahasa

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Monica Oktavina. Powered by Blogger.

Blog Archive

Flag Counter

Flag Counter

About Blogger

Hello guys, I am a mother of two kids, hopefully this blog useful for you, do not forget to follow this blog to get more information ^_^ (Instagram: moniceoktavina12. Youtube: Monica Oktavina) Contact Us: moniceoktavina@gmail.com

PRIVACY POLICY

Copyright © Monice and Family | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com