Read More

Slide 2 Pulo Cinta

Wisata Pulo Cinta Boalemo
Read More

Slide 3 Pulo Cinta

Wisata Pulo Cinta Boalemo
Read More

Slide 4 Pulo Cinta

Wisata Pulo Cinta Boalemo
Read More

Slide 5 Pulo Cinta

Wisata Pulo Cinta Boalemo
Read More

Slide 6 Pulo Cinta

Wisata Pulo Cinta Boalemo

Monday, March 22, 2021

Bimba AIUEO

I admitted that back then it was my adaptation with my new environment. If i remembered, it was really hard. Untill i could not really focus on my family. I was running for schedule, again and again. Moreover, something else was happened and i decided to make myself busier than before. But it gives me some benefits in to myself..In addition, a reason that i could not tell about it that made me so weird. Seriously, i feel better and now i become myself again..For example, i made me busy for learning Tahsin, Learning English, and if i used to for that positive activities, I feel something lost when i just do my daily activities like normal..

However, now i realize that i have to learn more especially about parenting. Because my children become kids that will enter the formal education. I think that is a big beginning, and i have to think it seriously..Furthermore, i could not handle when i am working. So, it is not only an education for them but also for me. How to choose the best school for my children, how to teach them when they are at home, how to recognize them to fathom about our religion, and more and more knowledge that have to they knowing. For the first time, i put my first child to Bimba in order to can read. The difference from therapy education before, at Bimba, he learn how to make socialize with the other children too. 

In additon, my first children has old enough  for enter the kindergarten this year, so i have to struggle. It is not same when my children still toddler. I do not have enough knowledge how to teach kids in order to be obedient, i just follow my feeling and hope that Allah gives me guidance for my children schools to be. It seems like i put my child to the Yamet Smart Galaxy for his treatment. I followed my feeling and searching the good place. I hope that it will be like that. I put my first child to Bimba before he enter the Kindergarten. I just take my feeling, and waiting for the result, He can do or not. Fortunately, the place is near from our home.  I have to think hard for the next step. Actually, in my heart i want to put my children to Islamic School. Because i hope all of my children could get the best education about Islam...As we know, as parents, we have to take responsibilities about our children....





Read More

Friday, March 19, 2021

Pengalaman Vaksin Covid-19 tahap 1

Assalamu'alaikum Wr Wb

Mau cerita pengalaman divaksin nih..Alhamdulillah kemarin saya sudah divaksin Covid-19 di Global Prestasi School. H-1 sebelum vaksin persiapan saya sih searching2 ya, apa itu vaksin, bagaimana efektivitas vaksin jika ada virus masuk, dan efeknya terhadap tubuh kita itu seperti apa..Selain searching2, saya juga baca2 komen di grup terkait vaksin. Jujur, sbenarnya saya sendiri takut divaksin, soalnya sebulan ini saya sering flu kalau pagi hari, ga tahu kenapa ya, dan bersin2 nya itu baru ilang pas udah menjelang siang. Dan begitu terus..Sebelum vaksin saya memperbanyak istirahat sih intinya, terus sempat minum vitamin C juga, biar imun tubuh semakin meningkat..

Pada saat hari H, ternyata paginya saya masih bersin-bersin, pilek meler gitu, pokoknya habis sholat shubuh teng langsung deh mueler,dan saya memang belum periksa ke dokter. Semakin deg2an sih...Nah, sekitar jam 9 kurang sy baru ke lokasi tempat acara vaksinasi, sebenarnya mulainya jam 8, tapi karena sy masih flu berat jadi ya telat2 dikit. Ada yang sharing di grup kalau pada saat pelaksanaan vaksinasi tetap harus mengenakan prokes seperti masker, menjaga jarak, dll, jangan lupa sebelum vaksin ke toilet dulu, terus bawa minum yang ada pipetnya, karena untuk mencegah membuka masker terlalu lebar..dan jangan lupa membawa KTP (tanda pengenal kita sebelum mendapat vaksin). 

Sesampainya disana kami cuci tangan, cek suhu tubuh, kemudian didisenfektan. Setelah itu memperlihatkan KTP dan ditempelin nomor. Dan kita menunggu sampai ke bagian cek di dalam. Nah pas bagian nunggu itu ngantrinya lumayan panjang ya gaes..jadi duduk, terus maju, terus nunggu. Mungkin ada sejaman lah nunggunya, soalnya datangnya pas jam crowded. Tapi pas nunggu tetep kursinya sudah diatur jaraknya sehingga tidak berdesakan dengan peserta yang lainnya. 

Di area stadion dalam ada 4 bagian yang harus dikunjungi yaitu yang pertama cek KTP, nama, dll. Yang kedua cek tekanan darah, keluhan yang dirasakan sebelum vaksin, nah di bagian ini saya menjelaskan bahwa ada alergi flu di pagi hari. Yang ketiga, ada dokter yang menjelaskan apakah kita layak atau tidak untuk divaksin. Alhamdulillah setelah saya mengemukakan kondisi saya, dokternya bilang ga papa divaksin. Dan yang terakhir bagian vaksinasi, ini deg2an gaes soalnya takut aja sm efek2 hasil guglingnya. Kalo sm jarum suntik sih lumayan ga takut yang penting merem ajah..

Bismillahitawakkaltu pas mau disuntik..

Nanya2 sm mbanya, mba habis vaksin efeknya apa ya? Biasanya pegel, terus ngantuk sm laper bu..panas ga? Engga kok..terus kalo divaksinasi bisa kena Covid ga? Kemungkinan masih bisa kena covid cuma efeknya nanti kecil ga sampai ke rumah sakit dan ga smpai pake ventilator (katanya gitu)..oh gitu..terus ini vaksinnya apa ya? Sinovac bu..dan akhirnya udah selesai vaksin cepet banget..

Habis disuntik, kita nunggu sekitar 30 menit sambil nunggu surat hasil vaksinasinya, setelah itu baru diperbolehin pulang..alhamdulillah..habis itu ada sesi foto2 gratis dan dikasih suvenir, saya ngambilnya kaos buat anak saya..hehe


Beberapa jam setelah vaksinasi..
Yang saya rasain pertama pegel ya tangannya, terus ngantuk gaes, jadi habis ishoma langsung tidur, ga tahunya tidur 3 jam-an, wkwk. Bangun2 laper, selebihnya ga ada sih..panas juga engga cuma agak berkeringet ya kayak habis olahraga gitu..beberapa jam tangan kiri juga masih pegel2 gitu ya, alhamdulillah hari ini pegelnya udah ilang..Terus pas bangun tidur dapat sertifikat udah divaksin juga lo gaes (dikirim lewat sms)..

Jadi itu pengalaman vaksin Covid Sinovac tahap 1 saya ya..kalau temen2 ada cerita lain bisa komen di kolom.komentar..terima kasih..


Read More

Wednesday, March 17, 2021

Selamat Jalan Livia.....

 Kemarin, 16 Maret 2021

Sahabatku..Livia Ardine menghadap Sang Illahi..

Begitu tahu kabar beritanya, aku langsung lemes banget. Gimana engga, dulu waktu zaman masih SMP, dia adalah salah satu sahabatku yang amat baik. Dia merupakan anak dari keluarga berada, yang sama sekali tidak memandang status sosial temannya. Maklumlah, dulu aku adalah anak dari keluarga yang pas-pasan, bahkan ke sekolah saja harus naik sepeda butut yang joknya sering aku ganti sendiri pake kain strimin. Tapi Livia, tidak pernah memilih-milih teman, dan dia sering cerita-cerita dengan ciri khas tertawanya..

Aku sering main ke rumahnya menggunakan sepeda, cerita tentang pelajaran di sekolah sampai dengan kesukaan kita masing-masing. Dulu dia suka banget sama M2M, Avril Lavigne dan hal-hal yang girly. Dia anaknya pinter, rajin menulis dan tulisannya itu bagus banget. Semua keperluan sekolahnya lengkap, mulai dari tempat pensil yang unyu2, buku yang warna warni dan juga buku-buku sekolah bermerk yang mahal harganya. Maklum lah dulu aku cuma mengandalkan LKS (Lembar Kerja Siswa) 😂. Dia anak yang rajin dan juga pintar, dia perfect tapi dia memiliki sakit yang bukan sakit biasa...aku tidak tahu lebih lengkapnya sakitnya seperti apa, hanya saja setiap pelajaran olahraga dia tidak ikut dan hanya mengenakan baju olahraga..

Yang aku masih inget banget, dulu aku sempat bercerita tentang keinginanku untuk berhijab..yang pada akhirnya mengantarkanku untuk ke Madrasah Aliyah Negeri Negara yang jauh dari circle teman-temanku semasa SD dan SMP...

Akhirnya setelah itu aku lost contact dengannya..

Hingga Facebook dan instagram mempertemukan kita kembali di bulan Juni 2017, aku agak lupa sih, cuma waktu itu aku yang follow dia duluan, dan say hay bertanya kabar, tetapi tidak melanjutkan percakapan kami kembali, mungkin karena kami dua-duanya masih sibuk, dan dia masih S2...

Pada bulan Februari 2020, Livia mengabariku tentang temanku Dayumang yang meninggal dunia. Dayumang adalah teman sekelasku dari waktu aku masih duduk di Sekolah Dasar, jadi aku sekelas sama dia selama 9 tahun. Aku shock banget, dan Livia menjelaskan perihal penyebab Dayumang meninggal dunia...Sedih banget, karena aku tahu sosok Dayumang si Nomor 1 di kelas dulu. Dan setelah itu aku menghubungi dia via whatsapp dan bercerita-cerita tentang kabar teman-teman SMP..

Beberapa bulan kemudian, aku menghubungi Livia. Baru kali ini aku mendengar suaranya setelah belasan tahun, dia masih seperti dulu, hanya saja logatnya telah berubah menjadi Logat Jawa karena dia tinggal di Surabaya...Aku pun memulai percakapan kembali dengan Livia, bercerita tentang masa-masa kami di sekolah dulu...Tentang karriernya, tentang usahanya. Aku tidak tahu itu adalah kali terakhir aku bisa mendengar suaranya..

Dan pagi tadi aku mendapat kabar dari temanku di Bali bahwa Livia telah meninggalkan dunia ini...Sedih banget banget, perasaanku campur aduk. Padahal beberapa minggu lalu aku masih lihat Livia melihat statusku di Whatsapp, dan terakhir dia menghubungiku ketika dia mengucapkan selamat milad buatku tahun kemarin....

Ya Allah livia..semoga surga tempatmu kelak, dan diberikan kelapangan di alam kubur..

Aamiin Yaa Robbal'alamiin

AL FATIHAH..

Read More

Sunday, March 14, 2021

Terapi di Yamet Smart Galaxy Center (2 tahun)

Assalam'alaikum Wr Wb

Lanjut ceritanya..

Sebenarnya kenapa sih harus diceritain tentang treatment anak secara mendetail? Jadi, saya itu suka sharing pengalaman, karena saya pernah berada di kondisi itu. Kondisi yang ga tahu ke depannya gimana dan cuma bisa ikhtiar dan tawakkal. Dan barangkali ada di luar sana yang memiliki anak spesial. Jangan berkecil hati bun, insya Allah jika kita menerima Allah pasti akan memberikan jalan keluarnya. Semakin kita denial atau menyangkal bahwa anak kita ga papa, maka akan semakin telat si anak mendapatkan terapi untuk tumbuh kembangnya. Jadi fase menerima itu adalah fase yang paling penting sih menurut saya. Saya selalu yakin akan pertolongan Allah SWT. Tapi dalam hati kecil saya, saya harus berbuat sesuatu yang bisa saya lakukan saat ini. Dan yang paling penting adalah rasa menerima dan memberikan hak kepada anak semampu yang kita bisa lakukan....

Maira nganterin Ahmad terapi

Setelah 6 bulan terapi di Satria Kid, entah kenapa saat itu saya melihat sebuah survei tahun kemarin yang salah satu sampelnya adalah Yamet Tumbuh Kembang Anak. Seperti ada petunjuk dari Allah, saya kemudian searching tentang Yamet Development Centre. Ya memang tempat terapi anak saya juga hasil searching2 di Google. Alhamdulillah banget ternyata Yamet Smart Galaxy itu lebih dekat ke tempat saya dibandingkan SKC. Jadi kalau ke SKC, butuh waktu 1 jam naik motor, kalau ke Yamet hanya 20-30 menit saja (menghemat waktu 30 menit). Dan perjalanan kesana melewati perumahan elit di Galaxy yang bikin betah mata memandang..

Singkat cerita, saya mendaftarkan Ahmad ke Yamet pada November 2019. Alhamdulillah saya langsung sreg karena semua pegawai dan terapisnya mbak-mbak berhijab, dan juga mengedepankan konsep Islami. Sebelum daftar, Ahmad di assesment terlebih dahulu. Karena ahmad sudah pernah terapi, ada beberapa pertanyaan yang sebelumnya terisi silang sekarang menjadi centang (alhamdulillah). Jadi selain menjawab pertanyaan, Ahmad juga di tes Sensori Integritas dulu selama 1 jam, mungkin itu salah satu cara untuk melihat dimana letak kekurangan sang anak. Bu Intan memberikan penjelasan ke saya hasil dari assesmentnya, Ahmad memang masih sangat kurang di motorik, sensoriknya, termasuk beradaptasi dengan lingkungan..dan memang karena saat itu Ahmad masih minim kosakata, jadi memang sangat dan harus diterapi. Dan jika dilihat dari hasil tesnya, alhamdulillah Ahmad tidak menunjukkan gejala autis berat (Seperti fokus terhadap suatu benda yang berputar, dan memukul atau menghentakkan jari jemari) sehingga Bu Intan menyimpulkan bahwa kemungkinan Ahmad mengalami kesulitan berkonsentrasi atau Attention Deficiency Disorder (ADD-ADHD). Bu Intan menyarankan untuk mengambil terapi minimal 6-8 jam per minggu, minimal ada Terapi Sensori Integritas 2x, Behaviour Terapi 2x, Okupasi Terapi 2x. Itu minimalnya, kemudian Bu Intan menjelaskan tentang konsep Golden Age:

Golden Age merupakan masa keemasan anak, dimana golden age sendiri terbagi menjadi 2 yaitu:

1. Golden Age 1: Umur 1-3 tahun, dimana anak belajar tentang menguatkan saraf-saraf motorik dan sensoriknya serta kemampuan berbicara.

2. Golden Age 2: Umur 3-5 tahun, pada golden age 2 anak akan membiasakan habitnya dan menjadi kebiasaannya nanti, maka terapi motorik dan sensorik yang terlambat di golden age 1 HARUS SEGERA dikejar di golden age 2 karena jika tidak maka anak akan kesulitan dalam memahami konsep dan ketangkasan.

Kata Bu Intan, ahmad sudah melewati fase golden age 1, jadi dia harus mengejar ketertinggalannya di Golden AGe 2 karena dikhawatirkan jika terlambat maka dia akan sulit mengejar ketertinggalannya dan akan seperti itu....Seketika aku melihat Ahmad, kasihan, tapi alhamdulillah insya Allah ini jalan keluarnya...

Saya memutuskan untuk melanjutkan terapi ahmad di Yamet, dan berhenti di Satria Kid, sebenarnya pas awal-awal masih di dua tempat ini karena di Yamet jamnya sudah full di hari weekend. Selang sebulan alhamdulillah sudah dapat jadwal tetap yaitu Sabtu dan Minggu, karena senin-jumat kami kerja dan agak susah bolak balik rumah sehingga seneng banget dapat jadwal di weekend. Alhamdulillah anaknya juga cocok..

Mengenai biayanya, per 1 jam itu 135 ribu jika di weekdays (senin-sabtu), dan 150 ribu per jam di hari minggu. Dan masing-masing hari minimal 2 jam pertemuan. Jadi saya mengambil SI, TW di hari sabtu dan BT, OT di hari minggu...Jadi bisa dikalikan berapa kalau sebulan ya bun..

Tapi menurut saya selagi saya masih bisa mengusahakan, akan saya usahakan..insya Allah rezeki akan datang dari arah mana saja..Allah Maha Kaya dan Maha Memberikan Rezeki. Yang penting anaknya semangat, kami pun semangat....

(Bersambung)


Read More

Saturday, February 27, 2021

Perjalanan MY SPECIAL KID di Satria Kids Center Selama 6 Bulan

 Assalamu'alaikum Wr Wb

Hai friends..

Seperti halnya apa yang saya targetkan di tahun ini yaitu mau fokus ke anak-anak saya. Sebenarnya memang sesibuk apapun saya sebisa mungkin memprioritaskan pendidikan anak-anak saya. Jadi gini..saya pernah bercerita bahwa 2 tahun yang lalu anak saya yang pertama mengalami keterlambatan bicara (speech delay) bahkan sempat didiagnosa ASD oleh dokter. Dan sewaktu anak saya didiagnosa ASD, itu membuat dunia seakan runtuh. Anak saya memang sedikit berbeda dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Perbedaan yang paling mencolok adalah anak saya belum bisa bicara di usianya yang sudah menginjak 3 tahun kala itu. Singkatnya, si kaka memang baru bisa 5 kosa kata dalam usia 3 tahun. Dan secara tumbuh kembang anak, itu bisa dibilang sangat terlambat karena umumnya anak 3 tahun sudah bisa seratusan lebih kosa kata dan tahu arti yang dimaksud. Pengalaman saya memiliki anak kedua yang usianya tahun ini 3 tahun (2021), itu sangat berbeda dengan kakanya 2 tahun yang lalu (2019). Adiknya sekarang sudah sangat lancar bicaranya, kosakatanya sudah sangat banyak karena dia gampang menirukan apa yang kami ucapkan, bahkan sudah bisa berkomunikasi 2 arah. Terkadang adiknya juga tiba-tiba nyeletuk yang bikin kami terheran-heran dengan kalimat yang dia ucapkan yang terkesan dewasa banget untuk anak seusianya.

Lanjut ke cerita anak pertama saya ya..

Melihat anak saya seperti itu dan diagnosa seperti itu membuat kami mengambil keputusan untuk pindah kerja. Karena di tempat kami dahulu memang tidak ada fasilitas tumbuh kembangnya. Dokter menyarankan anak saya untuk mengambil terapi tumbuh kembang. Saya bertanya kepada dokter "Kira-kira berapa kali terapi dok anak saya bisa bicara?" Dokter itu tersenyum "Terapi itu bukanlah dalam jangka waktu yang singkat, tidak bisa sekali, 2 kali, 3 kali, tetapi bisa bertahun-tahun tergantung tingkat keparahan dan penyerapan anak tersebut". Duh, saat itu rasanya kek ga bisa diungkapin dengan kata-kata. Terlebih lagi dengan diagnosa dokter dari rumah sakit terkenal yang membuat kami speechless. Bagaimana tidak, ada bayang-bayang ketakutan kami jika anak kami benar-benar autis. Karena dalam bayangan kami anak autis itu cenderung menyakiti diri sendiri dan benar-benar keluar dari dunia nyata ke dunianya sendiri. Anehnya dalam beberapa hari (ga sampai 1 minggu kayaknya) saya mulai menerimanya dan segera meghilangkan rasa denial saya...Saya menerima semua kekurangan anak saya, dan saya ikhlas. Saya accepted, saya harus ikhlas karena bagaimanapun juga, anak ini titipan Allah dan saya harus memberikan yang terbaik buat dia, apalagi mengingat saya dulu sangat merindukan kehadiran Sang Buah Hati.

Dengan kondisi si kaka yang benar-benar super cuek, dipanggil ga respon, kosakata sedikit, terus jika minta apa-apa selalu menangis tanpa memanggil nama saya, TIDAK MENUNJUK hal yang dia inginkan, kemudian dia sangat suka main sendiri (Hati-hati ya bun, kalau anak anda menunjukkan gejala-gejala tersebut. Harus segera dibawa ke spesialis anak). Dan ada moment dimana anak ini benar-benar ga kenal sama sekali dengan orang tuanya ketika di luar rumah. Anak saya hanya berlari tanpa arah, jika kami mengajaknya jalan-jalan. Dan tentunya saat saya memanggil namanya sama sekali dia tidak menoleh. Yups, terkadang terlintas rasa weird dilihatin  banyak orang karena saya harus mengejar-ngejar anak saya yang sudah berlari jauh tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Sebenarnya lebih ke yang takut gitu kan dia kayak ga denger suara motor atau mobil (serem banget). Jadi, dari pengalaman tersebut dan berdasarkan hasil browsing saya, anak ini harus diet ketat. mungkin temen-temen pernah denger yang namanya diet GFCF (Gluten Free Casein Free). Jadi diet itu adalah mengindari protein gluten seperti yang terdapat pada tepung terigu (gandum), kemudian tidak boleh mengkonsumsi casein yang berasal dari susu sapi, ditambah tidak boleh mengkonsumsi gula. 

Ini BUKANLAH HAL YANG MUDAH mengingat anak saya itu kurus dan pilih-pilih makanan. Beratnya di bawah garis kuning, dan ditambah dengan diet, mau jadi apa coba? Hehe, saya sempet berfikiran seperti itu. Tapi saya bersyukur karena anak saya masih bisa makan nasi dan telur, jadi ya udah susunya yang diganti pakai susu soya. Sebenarnya manfaat dari diet tersebut itu adalah untuk mengontrol perilaku si anak, karena anak dengan gluten dan casein berdasarkan penelitian lebih hiperaktif dan susah konsentrasi sehingga susah diberitahu. Jadi, suka ga suka sy terapin ke anak saya walaupun ya beratnya pas-pasan. Alhamdulillah, dia jadi lumayan anteng walaupun masih belum mau noleh kalau dipanggil. Dengan kondisi anak saya yang seperti itu membuat saya berfikir dan memutuskan untuk pindah. Dalam benak saya, saya tidak memerlukan jabatan dan karrier yang penting anak saya bisa mendapatkan perlakuan dan terapi terbaik yang bisa kami usahakan secara maksimal dibanding saya hanya berdiam diri dan membiarkan anak saya seperti itu. Itu ga fair banget buat dia kan?

Alhamdulillah singkat cerita dengan izin Allah, kami pun pindah ke tempat yang kami sangat harapkan. Saat itu saya pun mulai mencari-cari tempat terapi, mulai dari yang mahal, dan akhirnya nemu yang sesuai budget kami yaitu Satria Kid Centre seperti yang sudah pernah saya ceritakan sebelumnya. Dan sedikit demi sedikit anak kami mulai mengalami perubahan. Oh iya, sebenarnya satu bulan sebelum kami pindah saya sempat mengubah nama panggilan anak saya yang semula Umar menjadi Ahmad. Kenapa sih namanya diganti? Banyak pertanyaan seperti itu muncul..jadi sebenarnya bukan namanya yang diganti, hanya nama panggilannya saja. Karena saya merasa agak berat melafalkan "Umar" kalau setiap memanggil si kaka, karena lidah saya kurang fasih dalam melafalkan huruf R. Saya berfikir matang-matang dalam perubahan nama panggilan tersebut, karena ada juga dalam fikiran saya ingin mengganti namanya keseluruhan. Tapi alhamdulillah Allah memberikan petunjuk dan kami memantapkan hati mengubah nama panggilan kaka menjadi Ahmad, karena kami berharap nama tersebut akan membawa berkah ke dirinya sesuai dengan artinya yang berarti "Yang Terpuji" seperti nama Baginda Rasulullah SAW.

Saya akan cerita ya (panjang banget kalau diceritain tapi saya coba persingkat). Tempat terapi pertama anak saya adalah Satria Kids Centre. Sebelum terapi, anak kami harus di assesment terlebih dahulu untuk melihat seberapa jauh tumbuh kembangnya saat ini. Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, anak kami sebenarnya memang agak telat karena jalan saja di usia 17 bulan. Dari segi motorik dan sensorik juga mengalami keterlambatan, misalnya dalam hal mengunyah makanan (sering melepeh), gerak cepat, tidak tanggap, pilih-pilih makanan, terus belum benar memegang pensil dan menulis, tidak bisa membuat lingkaran, tidak bisa melompat, tidak menoleh saat dipanggil, dsb. Pertanyaannya mirip saat kami ditanya oleh dokter di rumah sakit. Bedanya, disini diagnosanya masih mengambil diagnosa dokter dan untuk terapi yang dianjurkan ada 3 yaitu:

1. Terapi Sensori Integritas (SI)

2. Terapi behaviour

3. Okupasi Terapi (OT)

Nanti di postingan selanjutnya akan saya jelaskan perbedaan ketiga terapi tersebut. Kenapa ga langsung terapi wicara? Terapisnya (Pak Tri H.) bilang karena anak ibu itu harus nurut dulu akan perintah. Saat ini, dia belum bisa melakukan apa yang diperintahkan oleh kita, sedangkan terapi wicara itu harus bisa diatur terlebih dahulu perilakunya bu..mungkin kalau anak ibu cepat, 6 bulan lagi bisa dilakukan terapi wicara...Dan, saat dilakukan assesment itu, bukan hanya hasil dari terapisnya saja yang kami dapat, tetapi juga motivasi dan apa yang harus kami lakukan di rumah. Jadi motivasi yang diberikan oleh si bapak yaitu: 

1. Semakin cepat dilakukan penanganan maka hasilnya akan lebih baik. Jadi, dalam tumbuh kembang itu selama anak ibu tidak memiliki penyakit bawaan berarti ini BUKAN PENYAKIT. Jadi tidak ada obatnya..Ini adalah GANGGUAN/DISORDER, dan gangguan itu tidak bisa disembuhkan tetapi bisa dikurangi. 


Gangguan tersebut dimisalkan seperti piramida, gangguan ASD/PDD NOS termasuk cukup berat, dan yang bisa dilakukan adalah mentreatmentnya supaya tidak semakin terjerembab masuk ke dunianya sendiri sehingga sulit untuk dikeluarkan dari dunianya tersebut. Anak, harus diajarkan mengenal dunia sosialnya, dan treatment pertama yang memang paling pas untuk anak spesial tersebut adalah Sensori integritas. Anak diajarkan melatih keseimbangan, melatih kekuatan motorik, ketangkasan, dsb. Dan jika kita sudah bisa mengeluarkan/menarik si anak dari dunianya, maka insya Allah akan semakin mudah untuk berlanjut ke tahapan-tahapan berikutnya..Pernah ada anak yang dibawa kesini dengan diagnosa tersebut kemudian selang beberapa bulan, diagnosanya ke arah yang lebih baik. Dan diasah ketertarikan mereka sehingga mereka pun bisa diterima di masyarakat dan sekarang ada yang alumninya bisa menghasilkan uang dari dunia musik. Namun, ada juga anak yang memang berkebutuhan khusus karena dibiarkan saja, maka keautisannya akan semakin dalam hingga menyakiti dirinya sendiri dan orang di sekitarnya, na'udzubillah.

Jadi, semakin anak ibu ditangani dengan cepat dan konsisten, dan cepat tanggap insya Allah anak ibu masih bisa diarahkan. Mendengar hal itu saya menjadi sangat lega..ternyata ada harapan-harapan baru yang selama ini belum muncul dalam benak saya.

2. Peran orangtua. 
Untuk tumbuh kembang anak, peran orang tua sangat penting. Terutama dalam memberikan perintah ke anak. Kami diajarkan bagaimana cara melafalkan kalimat perintah ke anak, sistemnya mirip seperti sistem ABA yang kami pernah lihat di youtube (bahkan kala itu saya mendownload sistem ABA untuk anak autis mulai dari Part 1 sampai part4 dari Kementrian Pendidikan kalau ga salah). Jadi, pertama-tama anak diajarkan untuk menoleh (disebut namanya) dengan cara kita panggil namanya kemudian jika anak tidak menoleh BIARKAN, kemudian kita panggil untuk kali kedua, jika anak tidak menoleh BIARKAN. Kemudian kita panggil lagi untuk ketiga kali, jika anak tidak menoleh BANTU dia untuk menoleh. Lakukan hal tersebut untuk perintah-perintah yang lain misalnya ambilkan baju, dsb. 

Untuk kalimat perintah sendiri ada aturannya, jangan memerintah anak dengan kalimat perintah yang bertele-tele, misalnya "Nak, tolong ambilkan handuk warnanya putih di atas lemari". Sebenarnya kalimat tersebut benar, hanya saja untuk anak berkebutuhan khusus kalimat tersebut cenderung bertele-tele. Jadi harus SINGKAT dan JELAS. Misal: "Ambil BAJU", "Ambil HANDUK", dsb. Dan perintah tersebut misal diperintah oleh ayahnya, harus sampai SELESAI. Jangan sampai anak, dibiarkan saja karena dia tidak akan belajar memahami perintah itu sendiri. Demikian juga orang tua tidak boleh mengujarkan kalimat perintah diatas kalima perintah. Jadi anak harus menyelesaikan kalimat perintah pertama baru masuk ke kalimat perintah kedua..

Setelah Assesment, anak saya kemudian di terapi di SKC, pertemuannya 1 anak 1 terapis dan syaratnya orang tua hanya boleh menunggu di luar. Pertemuan pertama, anak saya hanya menangis-menangis-dan menangis. Dia tidak suka dan mungkin merasa tidak akrab dengan terapisnya. Dalam hati kami, sebenarnya ga tega sih bun..tapi ya harus dipaksa. Drama tangisan berlangsung sampai 4 kali pertemuan, bahkan si kaka begitu naik mobil terus melihat belok ke arah SKC (dia mulai memahami), dia sampai ga mau turun dari mobil! 😅

Alhamdulillah setelah itu anak saya ga nangis lagi, trauma kesana mungkin masih ada tapi dengan bujukan-bujukan alhamdulillah dia mau, dan setelah 6 kali pertemuan dia sudah MAU DIPANGGIL NAMANYA. Ya Allah, seneng bangett!. Dan setelah bisa dipanggil namanya, si kaka mulai belajar untuk tidak takut bertemu dengan gurunya dan menyerap pelajaran menjadi lebih mudah. Apalagi di terapi behaviour atau tingkah laku si kaka sudah mau duduk manis menerima pelajaran dari terapisnya. Terapis yang paling kami ingat yaitu Bu Ayu dan Bu Ika. Bu Ayu dulu berpesan kalau anak ini mau gampang diarahin sebisa mungkin jangan dikasih susu coklat ya bu...Oke bu, nanti kami akan usahakan (sebenarnya waktu itu karena ribet bawa botol susu ke tempat terapi jadi kami sediain susu UHT 🙈).

Tiga bulan setelah terapi di Satria Kids Centre, saya pun memeriksakan kondisi anak saya ke dokter Spesialis anak di Rumah Sakit Permata Bekasi. Anak kami pun diuji dengan beberapa test kemampuan dasar oleh sang dokter. Oh iya sebelumnya saya membawa rujukan BPJS dari klinik terdekat. Memang saat itu banyak pertanyaan yang belum bisa dilakukan oleh anak kami, tetapi si kaka mulai bisa menyebutkan nama-nama binatang (nama pertama yang dia sebutkan adalah nama-nama binatang). Dan saat pemeriksaan itu, anak kami sudah mau menoleh saat namanya dipanggil..Dokter pun mendiagnosa kembali, dan hasilnya..................(bersambung)


Read More

Friday, February 12, 2021

My First Virtual Reconciliation in 2021

 Assalamu'alaikum Wr Wb

Hai friends..

This weekend, i am so busy because i have attended the meeting of reconciliation. For you know, that we could not meet one another by offline. Fortunately, in this era, we have good connection especially during pandemic  of covid19. Internet is very useful for us, and we still could connect and share whatever by zoom, email, whatsapp, and etc. It is important because we have to prevent ourselves in order not to contracted by corona virus disease, and must keep our social distancing.


Actually, before pandemic Covid19, we also use internet connection for our job. Some people could share many informations from their business to the others. Moreover, this manner could increase their revenue. Many companies get more partnership and also customers from online. Furthermore, if they put up ads in social media, they can get more followers and buyers, and we know about the new job such as endorsement. Thus, the examples of advantages. Beside many advantages of virtual connection, we have to know about the disadvantages. 

The disandvantages of virtual connection such as we begin to leave social intensive connection. We ignorant, and we busy with our phone. Moreover, we have suspicious feeling and do not want to be familiar with each other. It is almost more than a year, but the pandemic have not been finished yet. 

By the way, talking about my first virtual reconciliation this year. I think that it seems like a year ago. But, the differentiation is we just meet by zoom, and doing everything with our laptop which is connecting by internet. If we do not understand whatever we could ask to the admin who is controlling this meeting. For the first time, maybe i was being weird. But, finally i getting used to eventhough sometimes i really confused about it (lol). Yet, I hope that we get the best result.

So, that is my experience..if you guys have some experiences about virtual connection during pandemic, you could comment bellow my blog..

Ok, see you next time

Wassalamu'alaikum wr wb


Fyi: why recently i use english language in my blog? Please, read this article..

The reason that why i learn English again



Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Pengunjung Blog

Labels

A EKMET (1) A MACRO (1) A MATEK (1) A MENULIS (1) A MICRO (1) ENGLISH (13) ISLAMI (9) KISAH (24) KUE (2) KULINER (3) LEARNING (23) MONICLENS (8) MY CREATION (12) MY LOVELY FAMILY (17) Menjahit (6) NGAJI (1) NOSTALGIA (14) PUISI (7) RESENSI FILM (6) STORY (39) TAJWID (1) TESTIMONI (2) TIPS dan TRICK (16) TRAVELLING (40) TSAQOFAH (1) Umar (17)

Alih Bahasa

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Monica Oktavina. Powered by Blogger.

Blog Archive

Flag Counter

Flag Counter

About Blogger

Hello guys, I am a mother of two kids, hopefully this blog useful for you, do not forget to follow this blog to get more information ^_^ (Instagram: moniceoktavina12. Youtube: Monica Oktavina) Contact Us: moniceoktavina@gmail.com

PRIVACY POLICY

Copyright © Monice and Family | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com